“Boleh jadi gunung tinggipun hancur berantakan, namun hati seorang pejuang

tiada pernah kan bergeming dan berubah, ‘tuk senantiasa memegang teguh janji setianya”

api

Saat pertama aku mengenalnya, kudapati jiwanya adalah jiwa yang berkarakter lain, penuh gelora hidup untuk dapat memberikan andil perjuangan, sigap untuk selalu menyongsong beragam ketaatan, se-nantiasa dihinggapi semangat hidup dan semangat juang, serta lebih banyak berbuat namun sedikit bicaranya.

Maka pantaslah dia menjadi sang pa-nutan dalam kepribadian dan dalam dak-wah. Tatkala diperintahkan untuk berjaga di barisan belakang perjuangan, dengan sigap dia segera berbaur ke belakang. Dan tatkala diperintahkan untuk berjaga di front terdepan, maka secepat kilat diapun telah berada di garda terdepan dalam perjuangan.

Setelah hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, maka aku menyangka bahwa kepribadian dan karakternya pastilah telah berubah oleh berbagai fitnah kehidupan, atau bisa jadi jiwanya semakin lembut, semangatnya semakin re-dup, atau paling minimal adalah bahwa perjuangan dan tekadnya mulai luntur.

Sesungguhnya Allah swt akan senan-tiasa meneguhkan para wali-Nya yang sha-lih dengan kekokohan hati serta memban-tunya untuk dapat mengentaskan berbagai kesulitan dan rintangan.

Allah swt berfirman:

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu da-lam kehidupan di dunia dan di akhirat…..” [QS. Ibrāhīm (14): 27]

Syaykh ‘Abdur Rahmān as-Sa’diy ber-kata:

“Allah mengabarkan bahwa Dia meneguh-kan hamba-hamba-Nya yang beriman, yaitu hamba-hamba-Nya yang telah menunaikan kewajiban iman di lubuk hati mereka dengan sempurna, yang sekaligus menumbuhkan gelora amal perbuatan dari seluruh anggota badannya. Yaitu Allah meneguhkan mereka dalam kehidupan dunia berupa hidayah me-nuju keyakinan yang mantap tatkala syubuhat datang menyerang, atau berupa tekad kuat tatkala syahwat dirinya meradang, dan berupa kesigapan untuk senantiasa lebih mendahulukan kecintaan Allah daripada ke-cintaan hawa nafsu dan keinginan terselu-bungnya.

Dan Dia meneguhkan mereka da-lam kehidupan akhiratnya, yaitu dengan meneguhkan keislamannya tatkala maut datang menjemput hingga beroleh husnul khatimah, dan dengan meneguhkan mereka untuk menjawab pertanyaan dua malaikat tatkala berada di alam kubur. Maka merekapun akan dapat menjawabnya dengan benar, bahwa Allah adalah Rabbku, Islam adalah agamaku dan Muhammad adalah Nabiku” (Taysīr al-Karīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān: 425-426)

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukan-mu” [QS. Muhammad (47): 7]

Syaykh as-Sa’diy berkata:

“Allah memerintahkan orang-orang beriman agar menolong-Nya, yaitu menegakkan agama-Nya, mendakwahkannya, berjihad mela-wan musuh-musuhnya dan mempersembah-kan semua hal tersebut semata-mata hanya karena mengharap wajah-Nya.

Apabila me-reka telah menunaikan perintah tersebut, maka Allah akan memberikan kemenangan dan meneguhkan langkah mereka. Yaitu dengan menganugerahkan kesabaran, kete-nangan dan keteguhan dalam hati mereka, menyabarkan penderitaan tubuh mereka dan memenangkan mereka dari gempuran mu-suh-musuhnya” (Taysīr al-Karīm al-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān: 785)

Dan bukankah angin topanpun tidak sanggup untuk menghantam gunung yang tegar ataupun pohon yang kokoh? Dan bu-kankah Rasulullah saw telah bersabda:

“Perumpamaan seorang mukmin adalah bagaikan sebuah pohon yang kokoh, yaitu tat-kala angin berhembus kencang maka dia ber-usaha keras menghadangnya agar tetap te-gar, dan tatkala angin berhembus semilir, maka diapun tetap dalam ketegarannya” (HR. al-Bukhāriy dalam Kitāb al-Mar-dha’ Bab Mā Jā’a fī Kaffārah al-Maradh 10/103 No. 5644)

Mungkin saja berbagai fitnah kehidupan sanggup untuk mengikiskan bagian kehidupan duniawinya, baik harta-benda maupun anggota badannya, akan tetapi sesungguhnya apapun yang ada di dunia ini, maka tidak akan sanggup untuk menggoda dan menggelincirkan kaum mukminin.

Dan tidak akan pernah sedikitpun sanggup melumpuhkan tekadnya, meskipun hidup dalam deraan derita dan kemiskinan, kesempitan dan penderitaan, karena jiwanya adalah jiwa seorang kesatria pejuang, tekad perjuangannya senantiasa bergelora, dan hatinya senantiasa tunduk patuh kepada Rabbnya dengan penuh sakīnah dan thuma’nīnah.

Boleh jadi gunung tinggipun hancur berantakan, namun hati seorang pejuang

tiada pernah kan bergeming dan berubah, ‘tuk senantiasa memegang teguh

janji setianya

Belum pernahkah kita menyaksikan seorang kesatria pejuang dari generasi pertama yang pada suatu saat ditikam musuh dan bersiap hendak meregang nyawa, namun di detik terakhir kehidupannya, dia masih lantang berseru dengan penuh senyum kemenangan:

Demi Allah, akulah sang pemenang

Ternyata, kisah heroik ini tidak hanya menjadi milik generasi para shahabat, bahkan dalam setiap generasi kaum muslimin akan senantiasa ada epos kepahlawanan yang mempesona seperti ini, yang memancarkan pesona kebaikan dan keagungan sebagai seorang martir, sehingga kisahnya senantiasa menjadi buah bibir dan keteladanan dalam memegang teguh dan memperjuangkan panji kebenaran.

Banyak sekali orang-orang yang sanggup untuk merengkuh kebenaran, namun sangat sedikit sekali di antara mereka yang mampu untuk berkata lantang, tegar dan sabar dalam memperjuangkan kebenaran tersebut. Dan yang sedikit inilah yang sanggup untuk merubah perjalanan sejarah dan mereformasi realita ummat yang menyedihkan.

Alangkah menawannya ungkapan al-Rāfi’iy yang berkata:

“Hanya dengan bimbingan pahlawan ber-pengalaman yang berhati ksatrialah yang sanggup menggelorakan keberanian para pemuda, dan hal ini tidak akan terealisasi kecuali melalui pembinaan yang ditujukan untuk memupuk keperwiraan ummat” (Majallah ar-Risālah vol. 94, Muharram 1354)

Kalau kita renungkan dengan seksama tentang hal-ihwal dan kondisi kaum muslimin, tentunya kita akan mendapati bahwa kebanyakan mereka secara umum adalah orang-orang yang tidak memiliki andil untuk menyebarkan dakwah dan mengangkat panji perjuangannya. Tekad mereka nyaris tiada berdetak, dan bahkan tidak pernah memberikan perhatian sedikitpun.

Perasaan mereka tidak tersentuh sedikitpun tatkala menyaksikan kehormatan agama diinjak-injak dan dinodai para durjana. Dada mereka tidak pernah merasa sesak tatkala panji tauhid dicabik-cabik. Karena ambisi mereka hanyalah kehidupan dunia yang bersifat fatamorgana lagi fana.

Di belahan dunia yang lain, kitapun melihat sekelompok kesatria yang dengan sigap mengangkat panji tauhid dengan penuh keyakinan dan kemantapan ilmu. Mereka siap mengorbankan harta, keluarga dan bahkan jiwa mereka sendiri demi tegaknya panji tauhid.

Cacian dan celaan yang meng-hujani mereka tiada sedikitpun menyurutkan langkah. Kita jumpai mereka senantiasa ruku’ dan sujud seraya berharap akan karunia dan keridhaan Allah. Itulah sekelompok insan yang telah menggenggam kedudukan agung, sedangkan selain mereka hanyalah beroleh “kedudukan sisa”.

Salah satu hikmah Allah swt yang pasti adalah bahwa sarana yang dapat menghantarkan kepada kedudukan tersebut merupakan jalan terjal yang teramat sulit. Karena kalau seandainya jalannya mudah, tentulah akan banyak insan-insan lain yang sanggup menjadi para prajuritnya, bahkan mungkin secara berbondong-bondong.

Maha benar Allah swt yang berfirman:

“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu, keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-sama. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta” [QS. at-Taw-bah (9): 42]

Syaykh as-Sa’diy berkata:

Allah memberikan genderang perang ke-pada hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka sigap untuk pergi berperang di jalan-Nya, baik saat sulit maupun nyaman, dengan semangat maupun terpaksa, saat panas menyengat maupun dingin yang me-nusuk tulang, bahkan dalam berbagai kon-disi.

Yaitu dengan mengerahkan segenap kemampuan dengan seoptimal mungkin, baik dengan harta benda maupun dengan jiwa. Hal ini mengindikasikan bahwa selain de-ngan jiwa, maka jihadpun diwajibkan dengan harta benda, bahkan hal ini sangat dibutuhkan sekali.

Dan jihad dengan jiwa dan harta benda adalah idealisme yang lebih baik dari pada hanya berpangku tangan. Karena di dalamnya terdapat keridhaan Allah, keme-nangan beroleh derajat kedudukan yang tinggi di sisi-Nya, menolong agama-Nya dan menjadikannya sebagai tentara dan go-longan-Nya.

Dan seandainya tujuan jihad tersebut hanya sekedar untuk mendapat manfaat duniawi yang mudah diperoleh, atau hanya sekedar perjalanan singkat yang mu-lus, maka banyak orang yang akan mengi-kutinya, karena tidak akan menemui rin-tangan yang berarti sedikitpun.

Sebaliknya, ketika perjalanan tersebut adalah sebuag perjalanan jauh yang melelahkan dan dipenuhi banyak hambatan, maka banyak orang yang merasa berat menitinya…” (Taysīr al-Ka-rīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Man-nān: 338)

Sumber daya hakiki yang dimiliki ummat bukanlah berupa harta, persenjataan ataupun sumber tambang dan hal lainnya, karena sesungguhnya sumber daya hakiki tersebut adalah sumber daya manusia yang perkasa, yang memiliki tanggung jawab untuk mengemban amanah yang agung.

Sumber daya hakiki berupa jiwa yang senantiasa siap untuk mempersembahkan dan bahkan mengorbankan kehidupannya demi untuk mengayomi dan melindungi da’wah. Dan gambaran keindahan dari tipikal insan yang berdaya guna ini adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Rasulullah r adalah:

“Sebaik-baik penghidupan yang diupayakan oleh seorang manusia yang akan memberi-kan kebaikan baginya adalah keturunan yang berjiwa militan yang senantiasa bersiaga untuk memacu kudanya menuju medan laga di jalan Allah, yang manakala terdengar genderang perang atau gemerincing pedang di mana pilihannya saat itu hanyalah mem-bunuh ataukah terbunuh, maka diapun de-ngan sigap menyongsongnya” (HR. Mus-lim dalam Kitāb al-Imārah Bāb Fadhl al-Jihād wa ar-Ribāth 3/1503 No. 1889)

Dia adalah seorang kesatria yang telah menadzarkan dirinya untuk membela Allah swt dan senantiasa menyiapkan dirinya untuk berjuang di jalan-Nya, tiada satupun halangan yang sanggup menghadangnya. Renungkanlah bersama sabda Rasulullah saw dalam ungkapan “…memacu kudanya…”, dan ungkapan “…dengan sigap menyongsongnya”.

Saat ini kita berada dalam suatu masa yang masing-masing kita dituntut untuk berfikir “Apakah yang dapat kupersembahkan?”, atau bahkan “Bagaimana aku sanggup untuk menghasilkan suatu (perjuangan) melebihi kemampuan yang ada?”! Hal ini tidak akan mungkin dapat direalisasikan kecuali dengan tekad dan semangat membara yang dilandasi kejujuran, sehingga dalam berbuat atau berproduksi dia senantiasa berfikir jauh ke depan, baik dalam mempersembahkan andilnya mau-pun dalam beramal secara kreatif, dan tidak akan pernah rela untuk beramal dengan sedikit lagi minim.

Jadilah seorang kesatria yang berdiri kokoh di atas tanah

Namun cita-citanya tinggi menerawang hingga menancap di atas langit

Tidak ada satu halpun yang dapat membinasakan kemauan (ambisi) kuat seseorang kecuali karena dirinya sendiri, yaitu dengan merendahkan dan membungkus dirinya dengan kelemahan, hingga melumpuhkan tekadnya, dan diapun tidak sanggup lagi untuk bergerak dan beraktifitas.

Yang membuat kemampuan seseorang terasa hambar dan tidak bermanfaat tiada lain adalah karena dia mengganggap dirinya sebagai orang yang lemah, serta tidak sanggup untuk beraktifitas dan bekerja secara kreatif. Pada umumnya, kebanyakan orang tidaklah akan sanggup untuk menggali kemampuan dan potensi dirinya kecuali melalui pelatihan dan pengalaman yang berulang.

Dan sudah merupakan hal yang lumrah bahwa hasil kerja seseorang sangatlah tergantung pada kadar kemauan (ambisi) dan tekadnya. Seseorang yang memiliki kemauan atau ambisi adalah seseorang yang memiliki tujuan dan cita-cita tinggi, walaupun bisa jadi pada saat tertentu kemampuannya belum mampu untuk menggapainya.

Namun dia akan senantiasa berusaha keras untuk meningkatkan kemampuannya hingga ambisi dan cita-citanya tercapai. Dan apabila kemampuannya telah tumbuh dan tergali, maka dia tidak akan berhenti pada sasarannya yang pertama saja, tetapi dia pun terus meningkatkan dan menggalinya dengan lebih seksama. Alangkah indahnya ungkapan Syaykh al-Islam Ibnu Taimiyah yang berkata:

“Orang awam (yang memiliki ambisi dan tekad biasa-biasa saja) akan berprinsip: Har-ga diri seseorang ada pada apa yang diang-gapnya indah, sedangkan orang khusus (yang memiliki ambisi dan tekad luar biasa) ber-prinsip: Harga diri seseorang ada pada apa yang diidealismekannya (diperjuangkan atau dicita-citakannya)[Madārij as-Sālikīn Juz. 3 hal. 3 dan 148] (teamHasmi.org)

Kategori:Saia bicara
  1. Maret 1, 2014 pukul 3:57 am

    hey there and thank you for your information – I’ve definitely picked up something new from
    right here. I did however expertise a few technical issues using this website,
    as I experienced to reload the web site many times previous to
    I could get it to load properly. I had been wondering
    if your hosting is OK? Not that I am complaining, but slow loading instances times will very frequently affect your placement in google and
    can damage your high-quality score if ads and marketing with
    Adwords. Well I’m adding this RSS to my email and can look out for a
    lot more of your respective interesting content. Ensure that you update this
    again soon.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: